Baru Empat Hari di Desa, Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember Posko 25 Temukan Potensi Ekonomi Lokal: Sangkar Burung dan Kerajinan Batik Jadi Titik Awal Pemberdayaan
![]() |
| Dr. Ubaidillah selaku DPL Bersama Mahasiswa KKN Posko 25 |
BACADOLOE.COM, JEMBER – Semangat
pemberdayaan masyarakat mulai ditunjukkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN)
UIN KHAS Jember Posko 25 di Desa Dawuhan Mangli, Kecamatan Sukowono. Meski baru
empat hari berada di lokasi pengabdian, mahasiswa telah bergerak melakukan
langkah-langkah awal, pemetaan potensi desa dan berdasarkan kajian yang dalam,
sudah mampu menemukan dua aset ekonomi lokal yang menarik untuk dikembangkan,
yakni keterampilan pembuatan sangkar burung dan keberadaan pengrajin batik.
Temuan awal tersebut bukan
sekadar hasil pengamatan biasa. Ia merupakan langkah awal penerapan pendekatan
Asset Based Community Development (ABCD), sebuah paradigma pemberdayaan yang
menempatkan aset, kekuatan, kemampuan, dan potensi masyarakat sebagai titik
berangkat pembangunan.
Kegiatan diskusi dan pemetaan
potensi berlangsung di posko mahasiswa. Dalam suasana sederhana, mahasiswa
mulai membangun kesamaan persepsi, bertukar gagasan, mengidentifikasi
kemungkinan aset lokal, serta mendiskusikan arah program yang dapat dikembangkan
selama masa pengabdian.
Gerak cepat ini tidak terlepas
dari arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Ubaidillah Afief yang sejak
awal meminta mahasiswa agar tidak menjadikan KKN sekadar kegiatan rutin
akademik atau program yang hanya berorientasi pada penyelesaian kewajiban administratif.
Mahasiswa diminta serius, aktif berdiskusi, membangun komunikasi dengan
masyarakat, dan melakukan pemetaan sosial secara sungguh-sungguh.
ABCD: Mengubah Cara Pandang
terhadap Desa
Dalam pendekatan ABCD, terdapat
cara pandang mendasar yang harus dipahami mahasiswa: desa tidak boleh dilihat
pertama-tama dari kekurangannya, tetapi dari kekuatan yang telah dimilikinya.
Selama ini, kegiatan pemberdayaan
sering kali dimulai dengan pertanyaan tentang apa yang tidak dimiliki
masyarakat, apa yang belum tersedia, dan bantuan apa yang harus diberikan. ABCD
menawarkan perspektif berbeda. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang sudah
dimiliki masyarakat, keterampilan apa yang telah tumbuh, siapa saja yang
mempunyai kemampuan, serta peluang apa yang dapat dikembangkan dari aset
tersebut?
Perbedaan cara pandang ini sangat
penting. Sebab, masyarakat bukan kelompok yang selalu menunggu bantuan dari
luar. Di dalam kehidupan desa terdapat pengetahuan, pengalaman, keterampilan,
jejaring sosial, tradisi, sumber daya alam, kelembagaan, dan potensi ekonomi
yang sering kali belum teridentifikasi atau belum dikelola secara optimal.
Karena itu, mahasiswa KKN Posko
25 diarahkan untuk tidak terburu-buru membawa program yang dirancang
berdasarkan asumsi pribadi. Mereka harus terlebih dahulu mengenali kehidupan
masyarakat, mendengarkan pengalaman warga, menemukan aset yang tersedia, dan
membangun kepercayaan.
Dalam kerangka ABCD, mahasiswa
bukan penyelamat masyarakat, bukan pula pihak yang datang dengan klaim
mengetahui seluruh persoalan desa. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator,
penghubung, penggerak, sekaligus katalisator yang membantu masyarakat mengenali
dan mengoptimalkan kekuatan mereka sendiri.
Sangkar Burung dan Batik: Aset
Lokal yang Perlu Dihidupkan
Identifikasi awal terhadap
pembuatan sangkar burung dan kerajinan batik menjadi temuan menarik bagi
mahasiswa Posko 25. Dua potensi tersebut menunjukkan bahwa di tengah kehidupan
masyarakat Desa Dawuhan Mangli terdapat keterampilan dan aktivitas ekonomi yang
layak diperhatikan.
Namun, dalam pendekatan ABCD,
menemukan potensi bukanlah akhir dari proses. Justru dari sinilah pekerjaan
pemberdayaan yang sesungguhnya dimulai.
Mahasiswa perlu mengenali siapa
pengrajin atau pelaku usaha yang terlibat, bagaimana keterampilan itu
diwariskan, bagaimana proses produksinya, apa tantangan yang dihadapi,
bagaimana jaringan pemasarannya, dan sejauh mana masyarakat memiliki keinginan
untuk mengembangkan usaha tersebut.
Pemetaan juga perlu dilakukan
dengan melibatkan para pemilik aset. Jangan sampai mahasiswa merasa telah
menemukan potensi, tetapi masyarakat sendiri tidak merasa memiliki agenda
pengembangannya.
Potensi sangkar burung, misalnya,
dapat dikaji dari sisi keterampilan produksi, ketersediaan bahan baku, kualitas
produk, jaringan penjualan, hingga peluang pengembangan pasar. Demikian pula
kerajinan batik dapat ditelusuri dari sisi kreativitas pengrajin, karakter
produk, nilai budaya, proses produksi, dan peluang promosi.
Dengan demikian, program KKN
tidak berhenti pada dokumentasi potensi, tetapi bergerak menuju upaya
memperkuat kapasitas masyarakat dan membuka kemungkinan pengembangan ekonomi
lokal.
Dari Discovery Menuju Dream,
Design, dan Destiny
Dr. Ubaidillah juga mengarahkan
mahasiswa agar memahami bahwa ABCD bukan sekadar istilah atau metode yang
dicantumkan dalam proposal dan laporan akhir. Pendekatan ini harus benar-benar
menjadi cara kerja selama proses pengabdian.
Mahasiswa perlu menjalankan
tahapan pemberdayaan secara terarah. Dimulai dari Inkulturasi, yakni membangun
kedekatan, kepercayaan, dan hubungan sosial dengan masyarakat. Kemudian
Discovery, yaitu menggali dan menemukan aset serta pengalaman keberhasilan yang
telah dimiliki warga.
Setelah aset ditemukan, mahasiswa
bersama masyarakat memasuki tahap Dream untuk membangun cita-cita dan gambaran
masa depan yang ingin diwujudkan. Selanjutnya Design, yaitu merancang langkah
dan strategi pengembangan aset. Tahap Define digunakan untuk menentukan fokus
kegiatan dan komitmen bersama, sebelum bergerak menuju Destiny, yakni
pelaksanaan, penguatan, dan keberlanjutan perubahan.
Tahapan tersebut menegaskan bahwa
pemberdayaan tidak boleh hanya menjadi agenda mahasiswa. Masyarakat harus
terlibat sejak proses pengenalan aset, perumusan harapan, penentuan prioritas,
hingga pelaksanaan kegiatan.
Inilah salah satu kekuatan ABCD:
perubahan tidak dipaksakan dari luar, melainkan dibangun bersama berdasarkan
potensi dan kesadaran masyarakat sendiri.
Koordinator Posko dan Keseriusan
Kerja Kolektif
Keseriusan penerapan pendekatan
tersebut juga terlihat dari kepemimpinan Mas Dislam selaku Koordinator Posko
25. Ia mengoordinasikan mahasiswa dan memimpin diskusi dengan penuh kesungguhan
agar seluruh anggota memahami arah pengabdian yang sedang dibangun.
Peran koordinator menjadi penting
karena keberhasilan KKN tidak ditentukan oleh satu atau dua mahasiswa saja.
Diperlukan kerja kolektif, pembagian peran, kedisiplinan, komunikasi, serta
kesamaan orientasi di antara seluruh anggota kelompok.
Mahasiswa harus mampu mengubah
waktu tinggal di desa menjadi proses belajar yang produktif. Empat puluh hari
bukanlah waktu yang panjang apabila hanya diisi kegiatan seremonial. Akan
tetapi, waktu tersebut dapat menjadi sangat berarti ketika setiap hari digunakan
untuk membangun relasi, menggali aset, mengembangkan gagasan, dan bekerja
bersama masyarakat.
Karena itu, mahasiswa Posko 25
terus didorong untuk menjaga keseriusan selama 40 hari masa pengabdian. Jangan
sampai semangat hanya terlihat pada minggu pertama, kemudian melemah ketika
kegiatan mulai menghadapi tantangan di lapangan.
KKN Bukan Membawa Ketergantungan,
Melainkan Membangun Kemandirian
Satu hal yang perlu menjadi
perhatian adalah keberhasilan KKN tidak semata-mata diukur dari banyaknya
kegiatan, ramainya dokumentasi, atau terselenggaranya program kerja. Ukuran
yang lebih substantif adalah sejauh mana kehadiran mahasiswa mampu membangun
kesadaran, memperkuat partisipasi, menghubungkan potensi, dan menumbuhkan
inisiatif masyarakat.
ABCD mengajarkan bahwa masyarakat
harus menjadi pemilik perubahan. Mahasiswa boleh memfasilitasi, mendampingi,
memberikan gagasan, dan membantu membuka jaringan, tetapi masyarakatlah yang
harus memiliki ruang untuk menentukan arah pengembangan asetnya.
Program yang baik bukan program
yang membuat masyarakat terus bergantung kepada mahasiswa. Program yang baik
justru meninggalkan pengetahuan, jejaring, keterampilan, dan semangat kolektif
yang dapat dilanjutkan setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Dengan ditemukannya potensi
sangkar burung dan kerajinan batik, Posko 25 telah memiliki titik awal untuk
melangkah lebih jauh. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa potensi
tersebut benar-benar dipahami bersama masyarakat, dirumuskan menjadi agenda
pengembangan, dan jika memungkinkan, diwujudkan menjadi kegiatan produktif yang
berkelanjutan.
Empat hari pertama telah
memberikan gambaran bahwa Desa Dawuhan Mangli memiliki aset yang patut digali.
Selanjutnya, kesungguhan, konsistensi, dan kemampuan mahasiswa membangun
kolaborasi akan menentukan sejauh mana potensi tersebut dapat dikembangkan.
Sebab, esensi KKN berbasis ABCD
bukanlah mahasiswa datang untuk mengajari desa bagaimana menjadi maju.
Esensinya adalah mahasiswa belajar bersama masyarakat untuk menemukan bahwa
desa sesungguhnya telah memiliki kekuatan untuk tumbuh dan berkembang. Tugas
pengabdian adalah membantu kekuatan itu terlihat, terhubung, bergerak, dan
menjadi energi perubahan. (*)
Pewarta : Ubaidillah
Editor : Heridianto
