ZoyaPatel

Dini Rahmania dan Dawimatus Sholihah: Guru Hebat Bukan Hanya Bikin Pintar, tetapi Mengubah Masa Depan

Mumbai

 

Dawimatus Sholihah Saat Menyampaikan Materi di Depan Guru Ngaji 

BACADOLOE.COM, PROBOLINGGO - Guru yang baik mengajarkan ilmu. Guru yang hebat menanamkan nilai. Namun, guru yang benar-benar membekas adalah mereka yang mampu membuat murid merasa dihargai, berani bermimpi, dan tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Pendidikan Islam (Ngopi) yang diselenggarakan DPR RI bekerja sama dengan UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember di Kabupaten Probolinggo, Senin (26/10). Mengangkat tema “Jadi Guru yang Ngangenin, Menginspirasi dan Berdampak”, forum tersebut menghadirkan Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi NasDem Hj. Dini Rahmania, S.I.AN., M.M., dan Ketua STAI Al Utsmani Dawimatus Sholihah, M.E.

Keduanya menyoroti satu persoalan mendasar dalam dunia pendidikan: keberhasilan guru tidak cukup diukur dari kemampuan menyampaikan materi dan mengejar capaian akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membangun karakter, menumbuhkan kepercayaan diri, serta meninggalkan jejak kebaikan dalam kehidupan peserta didik.

Di sisi lain, tuntutan agar guru semakin profesional, inspiratif, dan adaptif terhadap perubahan zaman harus diimbangi perhatian nyata terhadap kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak mereka.

Dini Rahmania: Jangan Cepat Menghakimi Murid

Dalam pemaparannya, Dini Rahmania mengajak para pendidik membangun kedekatan dengan siswa melalui perhatian, empati, dan keteladanan. Menurutnya, guru yang dirindukan bukan semata-mata sosok yang menyenangkan di kelas, melainkan figur yang mampu membuat murid merasa aman, dihargai, dan dipercaya.

“Guru yang ngangenin itu harapannya guru bisa dekat dengan murid,” ujar Dini.

Ia mengingatkan agar guru tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap perilaku siswa. Anak yang mengantuk, kurang aktif, atau menunjukkan perubahan sikap di kelas, misalnya, perlu dipahami terlebih dahulu kondisi dan latar belakangnya.

Pendekatan semacam itu penting agar guru tidak sekadar memberikan hukuman atau label, tetapi mampu menemukan akar persoalan dan memberikan pendampingan yang tepat.

Bagi Dini, pendidikan bukan hanya tentang mencetak anak berprestasi secara akademik. Pendidikan juga merupakan proses panjang membentuk kejujuran, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan akhlak yang akan menjadi bekal anak ketika dewasa.

“Tidak hanya membuat anak pintar, tapi juga membentuk akhlak, kejujuran, tanggung jawab hingga dewasa,” tuturnya.

Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Probolinggo tersebut menilai, hubungan yang baik antara guru dan murid dapat menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan semangat belajar sekaligus keberanian mengejar cita-cita.

Sebab, tidak semua anak datang ke sekolah dengan kondisi yang sama. Ada yang membutuhkan dorongan, ada yang memerlukan perhatian khusus, dan ada pula yang hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Dalam situasi seperti itulah, kepekaan seorang guru menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan.

Guru Dituntut Profesional, Kesejahteraannya Jangan Dilupakan

Dini juga menyoroti besarnya tuntutan yang kini dihadapi para pendidik. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi dan metode pembelajaran, tetapi juga harus mengikuti perkembangan teknologi, memahami perubahan karakter generasi muda, serta menyelesaikan beragam tugas administratif.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh hanya berisi daftar tuntutan terhadap guru. Pemerintah juga harus hadir memastikan kesejahteraan dan hak-hak pendidik mendapat perhatian yang layak.

“Kita banyak minta guru ini, ini, ini. Tapi ada juga yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Salah satunya adalah kesejahteraan guru,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa profesionalisme guru dan kesejahteraan merupakan dua hal yang tidak semestinya dipertentangkan. Guru memang harus terus meningkatkan kompetensi, tetapi mereka juga membutuhkan dukungan agar dapat menjalankan tugas secara optimal.

Guru yang memperoleh penghargaan dan haknya secara layak diharapkan memiliki ruang yang lebih baik untuk berfokus pada proses pembelajaran dan perkembangan peserta didik.

Dengan demikian, pembenahan pendidikan tidak cukup berhenti pada perubahan kurikulum, digitalisasi pembelajaran, atau peningkatan target akademik. Perhatian terhadap kondisi pendidik juga harus menjadi bagian dari agenda perbaikan pendidikan.

Dawimatus Sholihah: Teknologi Bisa Berkembang, Keteladanan Tetap Menentukan

Melanjutkan pembahasan, Ketua STAI Al Utsmani Dawimatus Sholihah mengajak peserta melihat kembali posisi guru di tengah perubahan zaman. Ketika informasi semakin mudah diakses melalui internet dan teknologi kecerdasan buatan, guru tidak lagi cukup hanya menjadi sumber pengetahuan.

Guru harus mampu menjadi pembimbing yang membantu siswa memilah informasi, membangun cara berpikir kritis, sekaligus menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Dalam materi “Jadi Guru yang Ngangenin, Menginspirasi, dan Berdampak”, Dawimatus menekankan bahwa guru yang ngangenin bukan sekadar guru yang humoris atau pandai menciptakan suasana menyenangkan. Lebih jauh, guru yang dirindukan adalah sosok yang mampu membangun hubungan emosional dan intelektual sehingga siswa merasa diterima, dihargai, dan memiliki keberanian untuk berkembang.

Guru semacam ini tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Ia tetap bisa tegas, memberikan aturan, dan menetapkan standar yang tinggi. Bedanya, ketegasan itu berjalan bersama keadilan, kepedulian, serta kesediaan mendampingi siswa menghadapi kesulitan.

Konsistensi antara perkataan dan tindakan juga menjadi fondasi penting. Sebab, siswa tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan guru, tetapi juga dari bagaimana guru bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, dan menghadapi persoalan.

Dalam konteks ini, keteladanan bukan sekadar pelengkap pembelajaran. Keteladanan merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.

Jangan Sampai Anak Dinilai dari Apa yang Terlihat di Kelas

Dawimatus Sholihah juga menyoroti pentingnya memahami keunikan setiap siswa. Anak yang pendiam atau kurang menonjol dalam pembelajaran belum tentu tidak memiliki kemampuan. Bisa jadi, mereka mempunyai kreativitas, keterampilan, atau potensi lain yang belum memperoleh ruang untuk berkembang.

Karena itu, guru perlu melihat siswa secara lebih utuh, bukan hanya berdasarkan nilai, keaktifan berbicara, atau kepatuhan di dalam kelas.

Perkembangan teknologi digital, termasuk media sosial, dapat dimanfaatkan sebagai jembatan untuk memahami dunia siswa. Guru dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dengan menghubungkan materi pelajaran pada fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Namun, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti sentuhan kemanusiaan.

Empati, kepekaan terhadap perubahan emosi, kemampuan mendengarkan, dan keteladanan merupakan unsur yang tetap menentukan kualitas hubungan antara guru dan murid.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, guru justru ditantang memperkuat hal-hal yang tidak cukup diajarkan melalui mesin: kejujuran, tanggung jawab, penghargaan terhadap sesama, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Dari Guru yang Dirindukan Menuju Guru yang Mengubah Kehidupan

Dalam pemaparannya, Dawimatus Sholihah membedakan tiga dimensi penting dalam peran pendidik: ngangenin, menginspirasi, dan berdampak.

Guru yang ngangenin meninggalkan kesan emosional yang hangat. Guru yang menginspirasi menghadirkan keteladanan yang mendorong siswa meniru kebiasaan baik. Sementara itu, guru yang berdampak mampu menghadirkan perubahan yang bertahan dalam cara berpikir, kepercayaan diri, karakter, dan pilihan hidup siswa.

Dampak tersebut tidak selalu terlihat seketika. Seorang siswa mungkin baru menyadari arti nasihat gurunya setelah bertahun-tahun kemudian, ketika menghadapi persoalan hidup atau harus mengambil keputusan penting.

Bahkan, satu kalimat sederhana dari guru dapat menjadi sumber keberanian bagi anak yang sebelumnya merasa tidak mampu.

Karena itu, guru perlu memberikan umpan balik yang tidak hanya berisi angka dan koreksi. Apresiasi terhadap usaha, penjelasan mengenai kekuatan siswa, serta arahan konkret untuk memperbaiki kekurangan dapat membantu anak mengenali kemampuannya sendiri.

Mengenali siswa secara individual, menyapa mereka dengan baik, dan memberi ruang untuk berkembang merupakan langkah sederhana yang dapat menciptakan perubahan berarti.

Tantangannya, guru sering kali harus bekerja di tengah kelas besar, beban administrasi, distraksi digital, dan ekspektasi orang tua. Namun, kepedulian tidak selalu membutuhkan program besar. Perhatian kecil yang dilakukan secara konsisten pun dapat membangun hubungan pendidikan yang lebih manusiawi.

Dawimatus Apresiasi Kiprah Dini Rahmania di Tengah Masyarakat

Pada bagian akhir kegiatan, Dawimatus Sholihah menyampaikan apresiasi terhadap kiprah Hj. Dini Rahmania sebagai anggota DPR RI yang dinilainya terus hadir di tengah masyarakat untuk melihat dan merespons berbagai persoalan yang dihadapi warga, khususnya di Kabupaten Probolinggo.

Apresiasi tersebut sekaligus menjadi penegasan pentingnya membangun hubungan antara pembuat kebijakan dan masyarakat. Persoalan pendidikan, menurut semangat yang mengemuka dalam forum tersebut, membutuhkan perhatian bersama, mulai dari ruang kelas hingga ranah kebijakan publik.

Dawimatus Sholihah berharap Dini Rahmania senantiasa diberikan kesehatan dan kesuksesan dalam menjalankan pengabdiannya kepada masyarakat.

Kegiatan Ngopi ini pun menjadi ruang untuk mempertemukan dua perspektif yang saling melengkapi: pentingnya memperjuangkan kesejahteraan guru dan urgensi membangun pendidikan yang berpusat pada manusia.

Sebab, guru tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan kebijakan, lingkungan pendidikan yang sehat, serta masyarakat yang menghargai profesi pendidik.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak materi yang berhasil diselesaikan atau berapa tinggi nilai yang diperoleh siswa. Ukuran yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang tumbuh dari proses pendidikan tersebut.

Guru yang hebat bukan hanya membuat murid memahami pelajaran. Ia membuat murid percaya pada dirinya sendiri, berani menghadapi masa depan, dan membawa nilai-nilai kebaikan jauh setelah meninggalkan ruang kelas. (*)

Pewarta : Ubaidillah

Editor : Heridianto

Ahmedabad