Dari Beddian ke Nusantara, 241 Guru Tugas PPS Al-Utsmani Jadi Garda Pendidikan Islam
![]() |
| Pemberangkatan Guru Tugas Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani Masa Bakti 1447 - 1448 H |
BACADOLOE.COM. BONDOWOSO –
Program penugasan guru tugas yang digagas oleh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani
kembali menunjukkan eksistensinya dalam memperkuat pendidikan keagamaan di
berbagai daerah. Dari total 270 surat permohonan yang masuk sebanyak 241
madrasah dan pesantren berhasil terlayani melalui distribusi guru tugas Masa
Bakti 1447 – 1448 H.
Ratusan lembaga penerima tersebut
tidak hanya berasal dari wilayah lokal, melainkan tersebar luas di berbagai
penjuru Indonesia. Guru tugas Al-Utsmani kini mengabdi di sejumlah daerah,
mulai dari wilayah barat seperti Riau hingga ke kawasan tengah seperti
Kalimantan dan Bali bahkan menjangkau wilayah timur Indonesia seperti Jayapura
di Papua.
Rincian penugasan menunjukkan
sebanyak 159 guru tugas banin (laki-laki) sementara 82 guru tugas banat
(perempuan). Meski belum mampu memenuhi seluruh permohonan, capaian ini tetap
mencerminkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap kontribusi pesantren
dalam mendukung pendidikan Islam berbasis komunitas.
![]() |
| Pengurus Urusan Guru Tugas (UGT) Ust. Muhsin Ghazali saat Memberikan Arahan kepada Guru Tugas |
Pengurus urusan guru tugas (UGT),
Muhsin Ghazali menjelaskan bahwa arah kebijakan penugasan difokuskan pada
penguatan madrasah diniyah. Fokus ini didasarkan pada peran strategis madrasah
diniyah dalam membangun fondasi keagamaan masyarakat.
“Madrasah diniyah adalah benteng
pertama dalam menjaga nilai-nilai agama Islam. Di sana anak-anak mulai
dikenalkan pada dasar keimanan dan dibentuk akhlakul karimahnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa madrasah
diniyah juga memiliki keunggulan dalam memadukan antara penguasaan ilmu
pengetahuan dengan pembentukan karakter. Tidak hanya itu, lembaga ini juga
menjadi pintu awal bagi generasi muda untuk mengenal dunia pesantren secara lebih
mendalam.
![]() |
| Taujihat Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani KH. Ghazali Utsman saat Pemberangkatan Guru Tugas |
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani yaitu KH. Ghazali Utsman memberikan penekanan bahwa guru tugas yang dikirim ke
berbagai daerah sejatinya masih berada dalam proses pembelajaran.
“Guru tugas ini pada dasarnya
masih dalam tahap belajar. Mereka belum sepenuhnya bisa disebut ustadz dalam
arti yang matang, karena masih dalam proses pembentukan diri,” ungkapnya.
Menurutnya, penugasan ini justru
menjadi bagian penting dari sistem pendidikan di pesantren. Para santri tidak
hanya belajar secara teoritis, tetapi juga langsung terjun ke masyarakat untuk
mengasah kemampuan mengajar dan berinteraksi sosial.
Lebih lanjut, KH. Ghazali
menjelaskan bahwa keberhasilan dalam menjalankan tugas akan menjadi salah satu
indikator kelulusan dari Madrasah Diniyah Ulya Al-Utsmani. Dengan demikian,
program ini bukan sekadar pengabdian tetapi juga bagian dari evaluasi
pendidikan yang komprehensif.
Beliau juga mengibaratkan peran
Penanggung Jawab Guru Tugas (PJGT) sebagai “bengkel” pembinaan. Analogi ini
menggambarkan bahwa para guru tugas masih memerlukan proses penyempurnaan
sebelum benar-benar siap menjadi pendidik profesional.
“Guru tugas ini seperti mobil
yang belum sempurna. Maka perlu masuk bengkel agar diperbaiki dan
disempurnakan. Di situlah peran PJGT membimbing dan mengarahkan mereka,”
jelasnya.
Program guru tugas PPS Al-Utsmani tidak hanya menjadi solusi atas kebutuhan tenaga pengajar di berbagai madrasah dan pesantren, tetapi juga menjadi model pembinaan kader pendidik Islam yang berkelanjutan. Dengan jangkauan yang kini telah merambah berbagai wilayah Nusantara, program ini diharapkan mampu terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kualitas pendidikan keagamaan di Indonesia. (*)


