Bangun Generasi Cerdas Digital, Relawan TIK Bondowoso gelar FGD menggandeng Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember dan STAI Al Utsmani Bondowoso
![]() |
| Tim Relawan Bondowoso Bersama Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember dan Mahasiswa STAI Al-Utsmani Bondowoso |
BACADOLOE.COM, Bondowoso - Upaya
memperkuat budaya literasi digital di tengah masyarakat terus digencarkan
melalui kolaborasi berbagai elemen. Bertempat di Balai Desa Tegal Pasir,
Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Kabupaten Bondowoso, Mahasiswa Kuliah Kerja
Nyata (KKN) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember, Mahasiswa STAI Al
Utsmani Bondowoso, bersama Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK)
Kabupaten Bondowoso menggelar Focus Group Discussion (FGD) & Coffee
Morning, Minggu (12/7/2026).
Mengangkat tema "Membangun
Generasi Cerdas Digital: Kolaborasi Mahasiswa dalam Menguatkan Literasi Digital
Masyarakat", kegiatan ini menjadi ruang diskusi sekaligus wadah berbagi
gagasan mengenai pentingnya membangun masyarakat yang cakap, kritis, dan
bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.
Acara berlangsung dalam suasana
santai namun penuh makna bersama Sdr Adi Sucipto dan Muhyi Setiawan dari RTIK
Bondowoso. Melalui konsep coffee morning, peserta diajak berdialog secara
terbuka mengenai berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat di era digital,
mulai dari keamanan data pribadi, penyebaran hoaks, hingga etika dalam
menggunakan media sosial.
Materi utama disampaikan oleh Adi
Sucipto, Ketua Relawan TIK Kabupaten Bondowoso, dengan tema "Aman Bermedia
Digital (Digital Safety)". Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa
perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan
manusia. Kemudahan dalam berkomunikasi, bertransaksi, belajar, hingga bekerja
memang membawa banyak manfaat. Namun, di balik kemudahan tersebut juga muncul
berbagai ancaman baru, seperti pencurian data pribadi, pembobolan akun,
penipuan daring (scam), phishing, penyalahgunaan identitas, hingga kejahatan
siber lainnya. Oleh karena itu, masyarakat tidak cukup hanya mampu menggunakan
teknologi, tetapi juga harus memahami cara melindungi diri saat beraktivitas di
ruang digital.
Pemateri menjelaskan bahwa
keamanan digital (digital safety) merupakan proses untuk memastikan setiap
aktivitas digital, baik secara daring maupun luring, dapat dilakukan secara
aman. Keamanan digital bukan hanya melindungi perangkat, tetapi juga menjaga data
pribadi, identitas digital, serta informasi penting agar tidak disalahgunakan
oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam sesi diskusi, peserta
diberikan berbagai langkah sederhana namun sangat penting untuk meningkatkan
keamanan digital, di antaranya menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda
pada setiap akun, mengaktifkan Autentikasi Dua Langkah (2FA), menggunakan jaringan
internet yang aman, selalu memperbarui sistem operasi dan aplikasi, serta
meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan digital yang terus
berkembang.
Pemateri juga menguraikan
berbagai bentuk kejahatan siber yang sering terjadi di masyarakat, seperti
phishing, yaitu upaya memperoleh data pribadi melalui tautan atau situs palsu;
scam, yaitu penipuan melalui telepon, pesan singkat, media sosial, maupun aplikasi
percakapan dengan tujuan memperoleh keuntungan finansial; impersonasi atau
penyamaran identitas; penjual online palsu; lowongan pekerjaan fiktif; hingga
modus penipuan berkedok hubungan asmara (romance scam). Peserta diajak
mengenali ciri-ciri berbagai modus tersebut agar tidak mudah menjadi korban.
Selain membahas keamanan digital,
materi juga menekankan pentingnya membangun jejak digital (digital footprint)
yang positif. Setiap unggahan, komentar, foto, maupun aktivitas di media sosial
akan menjadi rekam jejak yang dapat dilihat oleh banyak orang. Karena itu,
masyarakat, khususnya generasi muda, diingatkan agar selalu berpikir sebelum
berkomentar (Think Before Commenting), berpikir sebelum membagikan informasi
(Think Before Sharing), dan berpikir sebelum mengunggah konten (Think Before
Posting). Sikap bijak tersebut akan mencerminkan karakter dan kualitas diri
seseorang di ruang digital.
Dalam sesi penutup, Adi Sucipto
menegaskan bahwa tidak ada sistem yang mampu menjamin keamanan digital hingga
seratus persen. Namun, setiap orang dapat meminimalkan risiko dengan
meningkatkan kewaspadaan, terus memperbarui pengetahuan mengenai keamanan siber,
serta membiasakan diri berpikir kritis terhadap setiap informasi yang diterima
di internet. Menurutnya, sedikit lebih berhati-hati akan membuat masyarakat
jauh lebih aman dalam memanfaatkan teknologi digital.
Kegiatan ini berlangsung
interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi. Berbagai pertanyaan,
pengalaman, serta gagasan disampaikan dalam forum diskusi, menunjukkan bahwa
literasi digital kini menjadi kebutuhan penting bagi seluruh lapisan
masyarakat.
Melalui kolaborasi antara
Mahasiswa KKN UIN KHAS Jember, Mahasiswa STAI Al Utsmani Bondowoso, dan Relawan
TIK Bondowoso, diharapkan lahir berbagai program edukasi yang mampu
meningkatkan kecakapan digital masyarakat desa, sehingga teknologi tidak hanya
menjadi sarana komunikasi, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan
masyarakat yang aman, produktif, dan bermartabat.
"Bersama Bergerak, Bersama
Berdampak." Semangat inilah yang menjadi komitmen bersama untuk terus
membangun masyarakat Indonesia yang semakin cerdas, aman, dan beretika dalam
ruang digital. (*)
Pewarta : Ubaidillah
Editor : Heridianto
